POLA PENGEMBANGAN PARAGRAF
MAKALAH
Untuk Memenuhi
Tugas Mata Kuliah
Bahasa
Indonesia
Yang Dibimbing
Oleh R.A. Ambar Sari P.,M.Pd.
Disusun Oleh :
Kelompok 8
Nama NIM
1. Arifudin 11180008
2. Betha Dea
Syawalingga 11180022
3. Dery Christian
Wahyudi 11180029
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
RADEN FATAH PALEMBANG
FAKULTAS SYARI’AH
JURUSAN D3 PERBANKAN SYARI’AH
November 2012
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum
wr.wb
Bismillahirrahmanirrahim.
Alhamdulillahi Rabbil Alamin sagala puji bagi Allah
atas Nikmat dan Rahmatnya sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini yang berjudul “Pola Pengembangan Paragraf”. Tidak
lupa pula kami
ucapkan terima kasih kepada
dosen pembimbing dan teman - teman yang telah memberikan dukungan
dalam menyelesaikan makalah ini.
Makalah
ini dibuat sebagai tugas Mata Kuliah Bahasa Indonesia yang dibimbing oleh ibu R.A. Ambar Sari P.,M.Pd. Tema
yang akan dibahas di makalah ini sengaja dipilih oleh Dosen Pembimbing kami untuk kami pelajari lebih dalam.
Kami mengucapkan terima kasih kepada
semua pihak yang telah membantu dalam pembuatan makalah ini sehingga makalah ini dapat diselesaikan
sesuai dengan waktunya.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih belum
sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun dari pembaca
sangat diharapkan demi perbaikan makalah ini.
Akhir kata semoga makalah
ini dapat bermanfaat bagi semua pihak baik yang menyusun maupun yang membaca. Amin
Palembang,
16 November
2012
Penyusun
POLA
PENGEMBANGAN PARAGRAF
PENDAHULUAN
Latar
Belakang Masalah
Pada umumnya para mahasiswa kurang
memahami pengetahuan dalam menulis paragraf. Kelemahan seperti ini sering
dijumpai pada karangan yang terdiri dari rangkaian paragraf baik dalam
penulisan makalah, skripsi, ataupun tesis. Oleh karena itu, kami membuat makalah ini, agar para mahasiswa mampu
mengembangkan penulisan paragraf secara baik dan benar dengan penggunaan
kalimat efektif. Dan tidak terjadi kesalahan dalam penulisan karya ilmiah.
Paragraf atau alinea berlaku pada
bahasa tulis, sedangkan pada bahasa lisan digunakan istilah paraton (Brown dan
Yule, 1996). Paragraf merupakan suatu kesatuan bentuk pemakaian bahasa yang
mengungkapkan pikiran atau topik dan berada di bawah tataran wacana. Paragraf
memiliki potensi terdiri atas beberapa kalimat. Paragraf yang hanya terdiri
atas satu kalimat tidak mengalami pengembangan. Setiap paragraf berisi kesatuan
topik, kesatuan pikiran atau ide. Dengan demikian, setiap paragraf memiliki
potensi adanya satu kalimat topik atau kalimat utama dan kalimat-kalimat penjelas.
Oleh Ramlan, (1993) pikiran utama atau ide pokok merupakan pengendali suatu
paragraf.[1]
Pengidentifikasian secara formal suatu
paragraf begitu mudah, karena secara visual paragraf biasanya ditandai adanya
indensasi. Yang menjadi persoalan, apakah bentuk yang secara visual dikenali
sebagai paragraf tersebut secara otomatis berisi satu satuan pokok pikiran?
Idealnya tentulah ya, bila paragraf telah dikembangkan secara baik. Namun,
kenyataannya belum tentu demikian karena belum tentu paragraf dikembangkan secara
benar. Disinilah pentingnya pengembangan paragraf.
Pengembangan paragraf terdiri atas pengembangan paragraf umum dan
khusus, sudut pandang, analogi, contoh, klimaks dan anti klimaks, proses,
klasifikasi, defenisi luas, perbandingan dan pertentangan, dan sebab akibat.
Namun dalam pembahasan makalah ini hanya dibahas lima dari sepuluh pola
pengembangan paragraf, yakni paragraf umum dan khusus, sudut pandang, analogi,
contoh, dan klimaks dan anti klimaks.
Masalah
Masalah yang
akan dibahas dalam makalah ini adalah sebagai berikut :
1.
Bagaimanakah penempatan kalimat utama pada paragraf
umum dan khusus?
2.
Bagaimanakah sudut pandang (point of
view) pengarang dalam suatu
paragraf?
3.
Bagaimanakah pola pengembangan analogi pada suatu
paragraf?
4.
Bagaimanakah pola pengembangan contoh didalam paragraf?
5.
Bagaimanakah
pola pengembangan klimaks dan anti-klimaks pada paragraf?
Tujuan
Tujuan yang diharapkan dalam pembuatan
makalah ini adalah :
1.
Untuk
mengetahui penempatan kalimat utama pada paragraf umum dan khusus.
2.
Untuk
mengetahui sudut pandang atau cara pandang pengarang dalam suatu paragraf.
3.
Untuk
mengetahui pola pengembangan paragraf analogi pada suatu paragraf.
4.
Untuk
mengetahui pola pengembangan paragraf contoh pada suatu paragraf.
5.
Untuk
mengetahui pola pengembangan paragraf klimaks dan anti-klimaks pada suatu
paragraf.
PEMBAHASAN
Pola Pengembangan
Paragraf
A. Pola
Pengembangan Deduktif, Induktif dan Deduktif-Induktif
1. Pola
Umum-Khusus (deduktif)
Istilah deduktif berarti bersifat deduksi.
Kata deduksi yang berasal dari bahasa Latin: deducere, deduxi, deductum berarti
‘menuntun ke bawah; menurunkan’; deductio berarti ‘penuntunan; pengantaran’.
Paragraf deduktif adalah paragraf yang dimulai dari pernyataan yang bersifat
umum, kemudian diturunkan atau dikembangkan dengan menggunakan
pernyataan-pernyataan yang bersifat khusus. Pernyataan yang bersifat khusus itu
bisa berupa penjelasan, rincian, contoh-contoh, atau bukti-buktinya. Karena
paragraf itu dikembangkan dari pernyataan umum dengan mengemukakan
pernyataan-pernyataan khusus, dapatlah dikatakan bahwa penalaran paragraf
deduktif itu berjalan dari umum ke khusus.[2]
Ciri – ciri paragraf deduktif :
a)
Letak kalimat utama di awal paragraf,
b)
Diawali dengan pernyataan umum disusul
dengan uraian atau penjelasan khusus,dan
c)
Diakhiri dengan penjelasan.[3]
Contoh kalimat :
~
Ini tentang gaya hidup para wakil rakyat
kita di Senayan. Ya, baru-baru ini heboh
beredar berita tentang gaya hidup para wakil rakyat kita. Mobil mewah yang
berharga milliaran rupiah, yang membuat rumah rakyat di Senayan itu seperti
showroom mobil mewah. Ada Alphard, Hummer dan Bentley. Publikpun
heboh. Saya berfikir, padahal kita lah yang diwakili mereka, dan mereka
adalah wakil kita, tapi mengapa yang MERDEKA hanya mereka yang sebagai WAKIL
KITA?[4]
~ Memiliki server sendiri memiliki banyak
keuntungan. Salah
satunya kita dapat memanfaatkannya secara maksimal. Meskipun demikian biaya
yang dikeluarkan jauh lebih besar. Biaya untuk hardware saja sudah di atas Rp
10 juta, belum lagi biaya perbulan. Selain itu kita juga membutuhkan tenaga
professional untuk menjadi operatornya.[5]
2. Pola Khusus-Umum (induktif)
Istilah induktif berarti bersifat induksi.
Kata induksi yang berasal dari bahasa Latin: ducere, duxi, ductum berarti
‘membawa ke; mengantarkan’; inducere, induxi, inductum berarti ‘membawa ke;
memasukkan ke dalam’. Lebih lanjut istilah induksi dijelaskan sebagai metode
pemikiran yang bertolak dari hal khusus untuk menentukan hukum atau simpulan.
Karena pernyataan khusus dapat berupa contoh-contoh, dan pernyataan umum itu
berupa hukum atau simpulan, maka dapat dikatakan bahwa paragraf induktif itu
dikembangkan dari contoh ke hukum atau simpulan.[6]
Ciri – ciri paragraf induktif :
a)
Letak kalimat utama di akhir paragraf,
b)
Diawali dengan uraian/penjelasan bersifat
khusus dan diakhiri dengan pernyataan umum,dan
c)
Paragraf induktif diakhiri dengan
kesimpulan.[7]
Contoh Kalimat :
~ Pada Lebaran tahun
kemarin harga sembako seperti gula, minyak, telur dan lain-lain mengalami
kenaikan secara signifikan, padahal lebaran pada saat itu masih seminggu lagi.
Bukan hanya makanan, pakaian muslimpun juga tak ketinggalan mengalami
kenaikan harga yang cukup tinggi. Seperti halnya baju muslim untuk wanita, baju
koko, kerudung, sajadah, mukena, kopiah dan lain-lain. Kenaikan
harga pada barang-barang ini selalu terjadi menjelang Lebaran pada setiap
tahunnya.[8]
~ Sebagian besar orang tampak berjejer di pinggir
jalan masuk. Sebagian lagi duduk santai di atas motor dan mobil yang diparkir
seenaknya di kiri dan kanan jalan masuk. Kawasan bandara sore ini memang
benar-benar telah dibanjiri lautan manusia.[9]
3. Pola Umum-Khusus,Khusus-Umum ( deduktif dan
induktif )
Pola
pengembangan parargraf yang kalimat utamanya terdapat pada awal paragraf dan
akhir paragraf, sedangkan kalimat penjelas terdapat di tengah paragraf.
Contoh Kalimat:
~
Beberapa tips belajar menjelang Ujian Akhir Nasional (UAN). Jangan pernah belajar “dadakan”. Artinya belajar sehari sebelum ujian.
Belajarlah muai dari sekarang. Belajar akan efektif kalau belajar kumpulan
soal. Hal ini dapat dilakukan dengan cara menjawab soal-soal di buku kumpulan
soal. Mencocokannya, lalu menilainya. Barulah materi yang tidak dikuasai dicari
di buku. Oleh karena itu, maka sebaiknya para guru memberitahukan
tips belajar menjelang UAN.[10]
B.
Pola Pengembangan Sudut Pandang (Point of View)
Pola
sudut pandang adalah pola pengembangan paragraf yang didasarkan pada cara dan pandangan yang dipergunakan pengarang
sebagai sarana untuk menyajikan tokoh, tindakan, latar, dan berbagai peristiwa
yang membentuk cerita dalam sebuah cerita fiksi kepada pembaca, atau unsur
fiksi yang mempersoalkan siapa yang menceritakan atau dari posisi mana (siapa)
peristiwa atau tindakan itu dilihat.[11]
1. Sudut
pandang orang pertama “aku”
~ first
person central atau sudut pandang orang pertama sentral atau
dikenal juga sebagai akuan sertaan : pencerita
adalah “aku” sebagai tokoh utama. Dalam cerita, pengarang menjadi tokoh
sentral yang secara langsung terlibat dalam cerita. Ada dua kemungkinan
mengenai si aku dalam cerita yang mengggunakan sudut pandang ini, bisa jadi si aku
dalam cerita adalah pengarang itu sendiri (pengarang seperti menulis
biografinya sendiri) atau si aku sebenarnya bukan pengarang, pembaca
seolah-olah mendengar cerita dari pelakunya sendiri.
contoh : aku merasakan sesuatu yang hangat menerpa kulitku. Perlahan aku
membuka sedikit-demi sedikit mataku. ‘Sudah siang’ batinku. Kutarik lagi
selimut hangat ku untuk menutupi silau mentari yang telah mengusik tidurku.
~ first
person peripheral atau sudut pandang orang pertama sebagai pembantu atau disebut akuan tak
sertaan: pencerita adalah “aku”
sebagai tokoh tambahan.
contoh : Aku iri pada Angga, dia sahabatku, sekaligus orang yang kuanggap
rival. Ia selalu lebih dilihat dari pada aku. Terkadang aku merasa benci
dengannya, tapi ia juga selalu membantuku dalam segala hal. Terlebih kemarin,
saat pentas seni. Aku melihatnya bersama Anita, gadis yang kusukai. Aku tak
tahu harus mengalah lagi atau tidak. Aku menginginkan Anita, aku rasa dia juga
mempunyai perasaan yang sama. Aku tidak menyalahkannya menyukai Anita, karena
akupun tak pernah bercerita padanya bahwa aku menyukai Anita. Tapi mengapa
setiap hal yang kusukai selalu saja ia sukai juga?
2. Sudut
pandang orang ketiga “dia”
~ third
person omniscient atau sudut pandang orang ketiga mahatahu atau diaan
mahatahu : pencerita berada di luar
cerita & menjadi pengamat yang mengetahui banyak hal tentang
tokoh-tokoh lain. Pada sudut pandang ini pengarang memposisikan
dirinya layaknya dalang dalam pertunjukkan wayang kulit. Dia tahu semua
peristiwa yang terjadi. Bahkan dia juga tahu watak dari setiap tokoh-tokohnya.
Ya, dialah yang menggerakkan cerita.
contoh : Sore itu cukup kelam, nampaknya hujan akan segera mengguyur kota
kecil yang tak dapat dipastikan keberadaan penghuninya tersebut. Angin pun
terus bertiup dengan kencang menemani kegundahan hati seorang pemuda yang
berjalan beriringan dengannya. Pemuda itu terlihat kusut dibalut dengan seragam
putih-abu-abu nya yang penuh noda dan darah, tertulis sebuah tanda pengenal
pada dada bidangnya, Angga Prasetya. Ia tidak tahu harus pergi kemana, karena
memang ia tidak mengenal tempat dimana ia berada sekarang. Beberapa puluh meter
setelah ia berjalan ia melihat sesosok manusia yang entah iapun tidak tahu
siapa.“Hey” teriaknya dari kejauhan. Namun yang ia dapat hanya kebisuan. Ia
mempercepat langkahnya untuk menghampiri sosok itu. Namun ternyata sosok itu
hanyalah sebuah patung tak bernyawa.
~ third
person limited atau sudut pandang orang yang bekerja terbatas atau
disebut juga diaan terbatas : pengarang mempergunakan orang ketiga sebagai
pencerita yang terbatas hak ceritanya. Pengarang hanya menceritakan apa yang
dialami oleh tokoh yang dijadikan tumpuan ceritanya.
C. Pola
Pengembangan Analogi
Analogi adalah
suatu perbandingan yang mencoba membuat suatu gagasan terlihat benar dengan
cara membandingkannya dengan gagasan lain yang mempunyai hubungan dengan
gagasan yang pertama. Berbicara mengenai analogi adalah berbicara tentang dua hal yang berlainan.
Dua hal yang berlainan tersebut dibandingkan. Jika dalam perbandingan itu hanya
diperhatikan persamaannya saja tanpa melihat perbedaannya, maka timbullah
analogi, yakni persamaan di antara dua hal yang berbeda.
Analogi
merupakan salah satu teknik dalam proses penalaran induktif. Sehingga analogi
kadang-kadang disebut juga sebagai analogi induktif, yaitu proses penalaran
dari satu fenomena menuju fenomena lain yang sejenis kemudian disimpulkan bahwa
apa yang terjadi pada fenomena yang pertama akan terjadi juga pada fenomena yang
lain. Persamaan hanya terdapat pada anggapan orang saja. Ini dalam kesusastraan
disebut sebagai metafora.[12]
Macam-macam analogi
a.
Analogi Induktif
Analogi induktif, yaitu analogi yang disusun
berdasarkan persamaan yang ada pada dua fenomena, kemudian ditarik kesimpulan
bahwa apa yang ada pada fenomena pertama terjadi juga pada fenomena kedua.
Analogi induktif merupakan suatu metode yang sangat bermanfaat untuk membuat
suatu kesimpulan yang dapat diterima berdasarkan pada persamaan yang terbukti
terdapat pada dua barang khusus yang diperbandingkan. Misalnya, Tim Uber
Indonesia mampu masuk babak final karena berlatih setiap hari. Maka tim Thomas
Indonesia akan masuk babak final jika berlatih setiap hari.
b.
Analogi Deklaratif
Analogi deklaratif merupakan metode untuk menjelaskan
atau menegaskan sesuatu yang belum dikenal atau masih samar, dengan sesuatu
yang sudah dikenal. Cara ini sangat bermanfaat karena ide-ide baru menjadi
dikenal atau dapat diterima apabila dihubungkan dengan hal-hal yang sudah kita
ketahui atau kita percayai. Misalnya, untuk penyelenggaraan negara yang baik
diperlukan sinergitas antara kepala negara dengan warga negaranya. Sebagaimana
manusia, untuk mewujudkan perbuatan yang benar diperlukan sinergitas antara
akal dan hati.
Beberapa Contoh Pengembangan Paragraf Analogi :
~
Sifat
manusia ibarat padi yang terhampar di sawah yang luas. Ketika manusia itu
meraih kepandaian, kebesaran, dan kekayaan, sifatnya menjadi rendah hati dan
dermawan. Begitu pula dengan padi yang semakin berisi, ia akan semakin
merunduk. Apabila padi itu kosong, ia akan berdiri tegak. Demikian pula dengan
manusia apabila diberi kepandaian atau kelebihan, bersikaplah seperti padi yang
selalu merunduk. (Membandingkan dua hal yang memiliki persamaan sifat, dalam paragraf
ini terdapat dua hal yang dibandingkan yaitu manusia dan padi. Dengan kata lain
sifat manusia
dianalogikan dengan padi).
~
Sebuah tiang yang
terbuat dari bahan yang bermutu dan berkualitas baik tidak mudah digoyahkan
apalagi untuk dirobohkan. Siapa pun yang ingin merusak dan menghancurkan tiang
tersebut akan sia-sia saja karena kekuatan yang dimilikinya berbeda dengan
tiang yang dibuat dari bahan bermutu dan berkualitas rendah. Tiang
yang bermutu rendah akan mudah dirobohkan atau dihancurkan. Begitu pula dengan
keimanan yang dimiliki seseorang. Seorang yang beriman dengan dasar keagamaan
yang kuat tidak akan mudah digoyahkan oleh godaan dan pengaruh-pengaruh yang
akan merusak keimanannya. Dengan demikian, keteguhan iman seseorang dapat
diibaratkan dengan kekokohan tiang yang berkualitas baik. (Membandingkan dua hal yang memiliki persamaan sifat. Dalam paragraf
tersebut, dua hal yang dibandingkan adalah tiang dan keimanan seseorang. Dengan
kata lainkeimanan seseorang dianalogikan dengan sebuah tiang).
D. Pola
Pengembangan Contoh
Paragraf contoh
merupakan sebuah paragraf ilustrasi.
Paragraf contoh dikembangkan menggunakan sebuah contoh atau ilustrasi. Contoh
atau ilustrasi pada paragraph tersebut yang memberikan penjelasan terhadap
gagasan paragraf, baik dengan cara deduktif, induktif, atau paduan keduanya. pengembangannya menggunakan gambaran sederhana atau
bentuk konkret dari suatu ide. Mengilustrasikan sesuatu dengan sesuatu yang
lain yang memiliki kesamaan atau kemiripan sifat. Biasanya menggunakan frase
penghubung “contohnya”, “umpamanya”,maupun
“misalnya”.
Contoh Pola
Pengembangan Paragraf Contoh :
~
Sebenarnya,
kondisi ekonomi kita sudah relatif membaik. Indikatornya dapat dilihat dari
berbagai aspek. Misalnya, dalam
bidang otomotif. Setiap hari kita temukan aneka kendaraan melintas di jalan
raya. Sepeda motor baru, mobil pun baru. Ini menandakan bahwa taraf hidup
masyarakat mulai membaik. Indikator lain seperti daya beli masyarakat akan
kebutuhan sandang, pangan, dan papan. Dalam bidang papan, misalnya, banyak warga masyarakat yang membangun tempat tinggal
yang permanen.[13]
E. Pola
Pengembangan Klimaks dan Anti-Klimaks
Klimaks yaitu suatu
gagasan utama mula-mula yang diperinci dengan sebuah gagasan bawahan yang
dianggap paling rendah kedudukannya, kemudian berangsur-angsur disusun dengan
sebuah gagasan lain hingga ke gagasan yang paling tinggi kedudukannya atau
kepentingannya. Dengan kata lain, gagasan-gagasan bawahan disusun sekian macam
sehingga gagasan-gagasan berikutnya lebih tinggi kepentingannya dari gagasan
sebelumnya.
Contoh Pola
Pengambangan Paragraf Klimaks:
“Bentuk traktor mengalami perkembangan
dari jaman ke jaman sejalan dengan kemajuan tekonologi yang dicapai umat
manusia. Pada waktu mesin uap sedang jaya-jayanya, ada traktor yang dijalankan
dengan uap. Modelnya kira-kira seperti mesin giling yang digerakan oleh uap.
Pada waktu tank sedang menjadi pusat perhatian orang, traktor pun ikut-ikutan
diberi model seperti tank. “Keturunan” traktor model tank ini sampai sekarang
masih digunakan orang, yaitu traktor yang memakai roda rantai. Traktor semacam
ini adalah hasil perusahaan Catrepillar. Di samping Caterpillar, Fordpun tidak
ketinggalan dalam pembuatan traktor dan alat-alat pertanian lainnya. Jepang
tidak mau kalah saing dengan dalam bidang ini. Produksi jepang yang khas di
Indonesia terkenal dengan nama padi
traktor yang bentuknya sudah mengalami perubahan dari model-model
sebelumnya.”
Gagasan utama
alinea di atas adalah Bentuk traktor
mengalami perkembangan dari jaman ke jaman yang terdapat pada awal
alinea. Kemudian diperinci dalam empat gagasan bawahan, yaitu; traktor yang dijalankan dengan uap, traktor
yang pakai roda rantai, traktor buatan ford, dan traktor buatan jepang atau padi traktor. gagasan bawahan pertama didukung oleh dua kalimat,
gagasan bawah kedua didukung oleh tiga kalimat; sebaliknya gagasan bawahan
ketiga hanya didukung oleh satu kalimat. Sebab itu terasa bahwa gagasan ini
juga kurang jelas. Gagasan bawahan keempat ditunjang oleh dua kalimat.[14]
anti-klimaks, yaitu
menulis mulai dari suatu gagasan atau tema yang dianggap paling tinggi
kedudukannya, kemudian perlahan-lahan menurun melalui gagasan-gagasan yang
lebih rendah.
Contoh Pola
Pengambangan Paragraf Anti-Klimaks:
Studi mengenai pembangunan di pedesaan
Indonesia dari dimensi administrasi pembangunan pada hakekatnya memerlukan
studi mengenai tiga perspektif. Pertama, kita memusatkan perhatian pada keadaan
sumber-sumber yang utama di sekeliling mana penduduk pedesaan harus
mengorganisasi eksistensinya, khususnya ciri - ciri yang terkait dengan
masalah-masalah yang berskala nasional. Kedua, sebaiknya kita mengenal
faktor-faktor sosial dan ekonomi yang menstrukturkan sifat interaksi diantara
penduduk pedesaan, baik selaku pribadi maupun selaku anggota dari kesatuan
sosial yang berbeda. Ketiga, kita memberi perhatian kepada pemerintah (
birokrasi ) baik sebagai pencerminan dari perspektif yang pertama maupun selaku
pelopor perubahan.[15]
[3] http://fitridiahworoutam.blogspot.com/2012/09/ciri-ciri-paragraf-deduktif-dan-induktif.html
[4]
http://www.slideshare.net/ibalzzubaee/contoh-kalimat-deduktif-dan-induktif
[5]
http://griyawardani.wordpress.com/2012/02/25/pola-pengembangan-paragraf/
[7]
http://fitridiahworoutam.blogspot.com/2012/09/ciri-ciri-paragraf-deduktif-dan-induktif.html
[8]
http://www.slideshare.net/ibalzzubaee/contoh-kalimat-deduktif-dan-induktif
[9]
http://griyawardani.wordpress.com/2012/02/25/pola-pengembangan-paragraf/
[10] http://www.slideshare.net/ibalzzubaee/contoh-kalimat-deduktif-dan-induktif
[11]
http://baktimu.blogspot.com/2012/09/unsur-unsur-intrinsik-novel-sudut.html
[12]
http://elfalasy88.wordpress.com/2008/08/21/analogi/
[13]
http://id.wikibooks.org/wiki/Subjek:Bahasa_Indonesia/Materi:Paragraf
[14]
http://iaibcommunity.wordpress.com/2008/05/15/klimaks-anti-klimaks/
[15]
http://adjienurrohman.blogspot.com/2010/04/pengembangan-paragraf.html
